Hilir mudik kesibukan kampoeng Inggris, Pare, mulai tampak pagi ini. Anak-anak muda memacu gerak mereka menyongsong masa depan, menuju tempat-tempat kursus yang menyambut jalan mereka menuju sukses. Tak terkecuali dengan Cista, ia mulai mengayuh sepedanya menuju kursus pronunciation pagi ini, ia memang sengaja mengambil kelas itu selain untuk memfashihkan bahasa Inggrisnya ia juga tidak ingin menyiakan liburan semester kali ini yang lumayan panjang. Walau wajahnya masih tampak pucat karena tangisnya tadi malam, ia tetap berangkat, baginya belajar adalah hiburan, dan ia berharap belajar akan menghibur hatinya.
“Bunda…. Cista, berangkat dulu. Assalamu’alaikum” sambil mencium tangan bundanya tercinta.
“hati-hati ya Nak?” dengan menepuk-nepuk pundak Cista penuh sayang. Lalu kembali sibuk menyapu halaman depan yang tidak terlalu luas.
^_^
Malam sabtu yang selalu dinantikan Cista, ia tidur larut malam tanpa khawatir paginya akan mengantuk, seperti liburan kuliah kursusunya pun memberi liburan dua hari, sabtu dan minggu. Cista hampir tak pernah melewatkan satu malampun tanpa kontak dengan Farhan, baik SMS atau telpon. Begitu pula mala mini, Untuk kesekian kalinya Handphone Cista bergetar. Masih SMS dari Farhan yang diterima. Awalnya Cista hanya menanggapi SMS Farhan dengan santai sambil berbaring diatas kasur dan mendengarkan lagu-lagu favoritnya dari file laptopnya. namun untuk yang sekian kalinya ia tak lagi bisa tersenyum.
U prmslhkan fto2q dg tmn2 cew lain
Tp knp u bebas memasng ftomu dg mas Ary di FBmu
Pdhl u blg haram berfoto dg q…dg alasan yg macm2, menjg kesucianlah
Tp trnyat yg kuliht tak sm, q mrasa trbohongi oleh kt2 sucimu….
Tanpa konfirmasi air mata Cista berderai. Ia tak tahu jawaban seperti apa untuk membalas SMS Farhan agar ia mengerti hatinya. SMS Farhan diterima lagi sebelum Cista membalas yang sebelumnya.
Dek maafkan aku ya…
Sebenarnya yg salah it hatiq, terlalu mudah cemburu
Kemudian Cista hanya membalasnya dengan singkat.
Just feel free whatever you wanna do for me.
Ia belum siap menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya, meskipun sebenarnya ia sudah punya jawaban. Hingga akhirnya terdengar berulang-ulang panggilan masuk dari Farhan, dan Cista hanya mereject atau hanya membiarkannya karena malam telah larut dan kepalanya tiba-tiba pusing tidak tertahankan. Ia merasa perlu istirahat dan membicarakan masalahnya dengan Farhan dalam keadaan sehat adalah lebih baik. Cista lalu terlelap dalam keadaan lampu kamar masih menyala dan sesekali Handphone Cista bordering, panggilan masuk dari Farhan yang merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia katakan. Ia terus berusaha mencoba menghubungi Cista ia benar-benar mencintainya, baru kali ini Farhan bisa jatuh Cinta yang murni dari hatinya yaitu kepada Cista. Dimata Farhan Cista adalah mutiara hatinya, hidup, bercahaya dan bertahta menguasai hatinya.
^_^
Awalnya Cista dan Farhan hanya berteman biasa. Mereka kuliah di Universitas yang sama, hanya berbeda fakultas. Awal semester pertama Cista belum mengenal seorang pun, kecuali Farhan, sahabat mantan Cista di SMA dulu, Dewa. Farhan hanya mengenal Cista sebatas cerita dari Dewa. Oleh karenanya Ia merasa bertanggungjawab untuk membantu Cista, Karena Cista adalah pacar sahabatnya, meskipun saat itu Cista dan Dewa telah putus.
Cista dan Dewa menjalani hubungan hanya sekitar enam bulan. Mereka akhirnya putus karena Dewa berselingkuh. Dewa merasa Cista selama ini tidak mencintainya, setiap kali ia ajak ngedate Cista selalu menolak. Dewa tidak tahan dengan hubungan yang hanya dalam dunia maya seperti ini, tapi sebenarnya pun Dewa tak ingin berpisah dengan Cista, ia merasa Cista selalu bisa membawa damai dalam kegalauannya. Kesalahan Dewa adalah tidak bisa menjaga kesetiaannya, ia mengkhianati Cista yang sangat mencintainya lebih dari yang ia tahu. Dewa memacari teman sekelas Cista, Luna.
Awalnya Cista tidak percaya cerita teman-temannya bahwa Dewa juga berpacaran dengan Luna. Hingga pada suatu hari Cista tak kuasa lagi menyimpan rasa penasarannya, ia menanyakan kepada Luna, Luna membenarkan bahwa ia memang berpacaran dengan Dewa yang sebenarnya ia telah tahu bahwa Dewa masih pacar Cista. Ia tidak kuasa menolak cinta Dewa yang telah lama ia tunggu. Cista sangat sedih melihat kenyataan ini, ia sama sekali tidak marah, ia sadar bahwa ia memang tidak bisa menjadi kekasih yang baik seperti yang Dewa inginkan. Cista pun berbesar hati membiarkan Dewa memilih Luna. Cista sangat sedih, ia tak ingin lagi mencintai seseorang hingga ia selesai studi S1 dan siap menikah.
^_^
Semester pertama yang sangat berat bagi Cista. Ia tidak terbiasa terpisah dengan keluarga sebelumnya. Tapi mulai sekarang ia harus terbiasa mandiri. Disamping ia harus belajar mandiri ia harus beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang semuanya baru baginya. hanya Farhan satu-satunya orang yang ia kenal dan ia percaya yang dapat membantunya.
Hari demi hari Cista telah berlalu di kota Semarang, tempat ia kuliah. Banyak hal yang telah ia lakukan, dan telah banyak kawan yang telah ia kenal namun kehadiran mereka belum mampu menggeser keberadaan Farhan, yang telah ia anggap kakaknya sendiri. Begitupun Farhan menggap Cista adalah adiknya, keduanya begitu dekat. Kedekatan mereka bukan diartikan sebagai persaudaraan seperti yang mereka rasakan, tapi sebagai hubungan kekasih. Karena mereka melihat kedekatan keduanya bak sepasang kekasih. Namun Cista dan Farhan tak pernah merasa demikian, keduanya hanya merasa nyaman dengan hubungan ini, hubungan yang mereka namakan simbiosis mutualisme yang artinya saling menguntungkan. Meskipun terkadang terbesit dalam hati mereka, ‘benarkah kita bak sepasang kekasih?’. Mungkin karena sebuah prinsip yang mereka pegang teguh yaitu untuk tidak pacaran atau yang serupa dengan itu selama belum lulus kuliah, hingga mereka selalu pandai menyangkal jika sebenarnya ada sesuatu yang tidak biasa tumbuh dan bersemi dalam hati mereka. Mereka pun begitu pintar untuk bersilat lidah menyangkal yang sebenarnya memang benar adanya.
^_^
Malam yang hening, air mata Cista mengalir tanpa ia bisa kendalikan. Hingga tangisnya membuat ia sulit bernafas. Sesuatu yang selama ini dia sembunyikan, mala mini ia beranikan untuk mengungkapkannya. Begitupun Farhan. Tentang kejanggalan hubungan mereka yang mereka sendiri tak paham. Tentang apalagi kalau bukan Cinta. Cinta yang merasuk hati mereka dengan pelan-pelan namun pasti.
Malam itu mereka mengungkapkan segala yang mereka rasakan. Walau hanya dalam huruf yang tersusun melalui SMS, semua yang mereka ungkapkan ampuh membajiri hati mereka dengan air mata. Kegalauan dan rasa penasaran mereka kini terjawablah sudah. Apa yang mereka rasakan selama ini ternyata sama. Cinta itu tumbuh dan bersemi bersama.
Semua telah terungkap sudah. Namun mereka tak tahu harus berbuat apa setelah apa yang mereka ingin tahu telah terjawab semua. Mereka bingung karena kehadiran cinta ini tak mereka harapkan, waktu, tempat dan pada orang yang tak tepat. akhirnya mereka justru memutuskan untuk menjauh. Dan bagi mereka, cinta hanya memisahkan mereka.
Dalam keterpisahan ini, mereka menyadari ini semakin menyakitkan. Keduanya berusaha mencari jalan terbaik. Disudut dunia manapun cinta yang dipisahkan hanya akan menghadirkan kesedihan. Biarkan tetap bersama, biarkan cinta itu ada sebagaimana adanya, hanya menjaga batas-batas sewajarnya yang tak akan mengubah kedua prinsip mereka.
^_^
Semakin hari cinta itu semakin menuntut, adanya rasa cemburu, dan ketidak terimaan. Meski tanpa status cinta itu menuntut, seakan-akan ia diakui dan punya hak. Hingga kesekian malam sampai pada puncaknya, kali ini Cista tak bisa lagi bertahan, cinta itu selalu menuntut, sudah tidak terhitung lagi berapa kali mereka berselisih pendapat yang akhirnya berujung pertengkaran. Dan entah berapakali Cista menangis. Atas nama cinta keduanya berusaha bertahan.
Kali ini Cista memohon untuk menyerah. Biar cinta ini ada sebagaimana adanya. Berpisah dengan baik-baik. Menjadi sahabat sebagaimana sebelumnya itu lebih baik. Mereka tetap bersama hanya rasa diantara mereka saja yang mereka lepaskan.
^_^
Sepulang kursus Cista menghubungi Farhan. Dengan tenang dan tanpa emosi ia mengatakan pada Farhan.
“ let me go dear…” kata-kata itu, sungguh Cista tahu bahwa tak sama dengan apa yang ada dalam hatinya.
Disebarang sana suara Farhan menjawab apa yang diminta Cista.
“ jika menurutmu itu terbaik. OK. Akan aku turuti maumu. Dan mohon maafkan aku” kemudian berakhir salam dan pembicaraan via telpon itu kemudian terputus dengan salam.
Sungguh dalam hati Cista menjerit ia ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya ada dalam hatinya.
“ don’t let me go…” tapi ia tak kuasa.
Kemudian, ia terduduk terpaku dengan ratap kosong. Air matanya mengalir perlahan dan bibirnya berucap.
“ semoga ini air mata terakhir, dan kau cinta terakhir. Aku masih menunggu keajaiban kau kembali”
Akhirnya perpisahan yang selama ini mereka takutkan benar-benar datang, datang ketika cinta sedang mekar seindah-indahnya.
THE END