SARAH PUNYA MIMPI
(By: Lina Lathifah)
Baru saja sarah selesai melipat mukenahnya sepulang dari sholat jama’ah Isya’di masjid yang tak jauh dari rumahnya, suara Emaknya sudah terdengar memanggil namanya. Segera langkahnya menghampiri asal suara itu.
“Nduk, coba sini bentar mijiti Emak” kata emak sambil mengurut-urut kakinya yang mulai tak kencang lagi.
“Emak capek ya, Sarah ambil minyak urut dulu ya Mak” sigap Sarah pada setiap ucapan Emaknya.
Sarah ingin menangis, tapi ia tahan. Ia tak ingin melihat Emak melihat air matanya. Emak akan lebih terbebani karenanya. Sejak Bapaknya meninggal kehidupan keluarga itu makin susah saja. Untungnya Emak sudah punya pekerjaan sampingan berjualan soto di kantin kampus dekat rumah. Perekonomian keluarga menjadi sedikit ringan, apalagi Sarah sudah tidak perlu lagi biaya untuk sekolah, ia mendapat beasiswa. Ditambah lagi dia masih bisa menabung dari hasil menjadi pembimbing di suatu lembaga kursus bahasa Inggris. Hanya biaya untuk Rahman dan Asna saja yang masih dipikirkan untuk dikirim setiap bulannya, mereka sudah masuk pesantren ketika bapak masih hidup, walaupun ekonomi keluarga sekarang tak seperti dulu, bukan berarti pendidikan Rahman dan Asna terputus, begitulah harapan emak.
*****
Sarah mengayuh sepedanya lebih kencang lagi, sepeda yang ia dapatkan sebagaimana yang ia tuliskan dalam diarinya. Ya, Sarah selalu menulis apa saja yang ia inginkan dalam sebuah diari, kemudian setiap malam pada setiap munajatnya, ia memohon pada Tuhan agar semua itu menjadi kenyataan.
“Tulislah apa yang kamu inginkan, lalu perlihatkan pada Tuhan dalam setiap munajatmu, Tuhan akan mengabulkannya, Nduk!” Begitulah nasehat Bapaknya yang slalu dia ingat.
Mungkin itu terdengar konyol, tapi Sarah yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan semua yang ia tuliskan itu, dan bukti nyatanya adalah sepeda yang kini sedang ia kayuh.
Lima menit lagi kelas yang dibimbingnya akan dimulai, ia selalu berusaha disiplin waktu. Menjadi pembimbing belajar adalah kegiatan yang menyenangkan bagi Sarah, ia bisa belajar sekaligus dapat honor. Dari uang tersebut ia bisa membeli sepeda, membantu Emak membiayai kedua adiknya, Asna dan Rahman. Ia juga masih menyisakan sedikit untuk tabungan.
*****
Halaman diari berikutnya sekarang sudah dihiasi sebuah harapan besar, cukup singkat doanya.
13 Oktober 2010
Tuhan, Sungguh Sarah ingin kuliah di Amerika, belajar sungguh-sungguh sambil bekerja membantu emak untuk membiayai Rahman dan Asna. Berangkat bulan April 2011. Bagaimanapun caranya, meskipun aku hanya anak penjual soto. Aku yakin bisa.
Sarah tak mengerti mengapa ia menulis Negara Amerika sebagai tujuannya, baginya itu tak menjadi masalah, yang terpenting bahwa hidup selalu harus punya target yang harus dicapai.
Diari itu tak langsung ia tutup, ia buka halaman demi halaman, lalu ia baca. Ada halaman yang mengingatkan Sarah tentang janji yang harus ia penuhi. Janji pada Bapak.
Bapak telah tiada, Sarah tidak boleh sedih, Sarah harus menjaga dan membahagiakan Emak, Sarah tak akan menikah sebelum pendidikan Rahman dan Asna selesai, minimal sampai selsesai S1.
Hati Sarah berdesir, air matanya menetes. Sarah takut tak bisa memenuhi janji itu. Ia terlarut dalam tangisnya hingga mimpi membuaikannya.
*****
Waktu menunjukkan jam tiga pagi. Segera ia mengambil wudlu lalu sibuk dalam sujud-sujud tahajudnya, sebelum mengakhiri munajatnya ia mengambil diarinya.
“Tuhan, apa yang hamba inginkan sudah kutuliskan dalam diari ini. Hamba memohon jadikanlah ini menjadi kenyataan, hamba telah berusaha membuatnya nyata namun tanpa kehendakMu semua itu hanya menjadi tulisan belaka”
Ia pun segera mengakhiri tahajudnya, suara emak di dapur menuntun langkahnya untuk segera membantu mempersiapkan jualan soto.
“Emak sudah tahajudan?” Tanya Sarah sambil bergegas memperankan dirinya untuk membantu Emak.
“sudah thoh nduk, tadi Emak bangun setengah tiga” jawab Emak yang sibuk mencuci beras.
“emak mandi saja sekarang biar segar mak, lalu berangkat jama’ah shubuh mak. Biar sarah saja yang menyelesaikan ini semua, percayalah sarah bisa menanganinya” ucap sarah dengan yakin.
“ya sudah ndok, tinggal menanak nasi kok, Emak tinggal dulu ya” emak melangkah pergi meninggalkan dapur dan melangkah menuju kamar mandi.
*****
“Mak sotonya dua ya mak, yang pedes. O ya mak es tehnya dua” ucap salah satu mahasiswa langganan soto emak.
“ya mas, Tunggu sebentar, silahkan duduk dulu” jawab emak sambil meladeni pelanggan lain.
Seorang mahasiswa tinggi, kurus, dan berkacamata. Melangkah cepat masuk warung soto emak seperti sedang kelaparan. Ditangannya sedang memegangi dua kamus besar bahasa Inggris, brosur, dan panduan TOEFL. Langkahnya cepat menghampiri Emak.
“Assalamu’alaikum Mak…, sibuk ya mak” ucap pemuda itu
“Eh Mas Syaiful, pesen soto Mas? Duduk dulu Mas” jawab Emak.
“hari ini tidak beli soto dulu ya Mak, masih kenyang Mak, boleh ketemu Sarah apa tidak Mak?” ucap pemuda itu langsung pada tujuannya.
“eh mau ketemu Sarah thoh? Sarah nyuci piring di belakang. Tungu aja sambil duduk entar Emak buatin soto. Gratis Mas, ini sebagai rasa terimakasih Emak karena Mas Syaiful sudah bantu Sarah belajar bahasa Inggris, selain nilai UN Sarah bagus, dia juga bisa jadi pembimbing bahasa Inggris, lumayan lah Mas jadi bisa meringankan beban Emak, Emak minta maaf ya tidak bisa kasih Mas Syaiful apa-apa” tutur emak panjang lebar
“ah Emak bisa saja. Memang Sarahnya sendiri yang pinter Mak, wajar kalo nilainya bagus, eh itu mak Sarah sudah selesai.O ya mak, Sotonya tidak usah, saya benar-benar sudah kenyang, sudah dulu ya mak mau ketemu sarah” tutur pemuda itu dengan sopan.
Syaiful segera menghampiri Sarah, diapun mulai menerangkan apa tujuannya. Sarah mendengarkan dengan sungguh-sungguh, seperti ada hal penting yang sedang mereka bicarakan. Akhirnya perbincangan serius diantara mereka selesai, sebelum berpisah tak lupa syaiful memberikan dua kamus besar yang dibawanya sebagaimana biasanya setelah mengajari Sarah bahasa Inggris. Namun, ada yang tak biasa kali ini, syaiful juga meminjamkan laptopnya pada Sarah dan raut muka sarah tak seperti biasanya ketika selesai belajar bersama Syaiful.
Syaiful kembali menghampiri Emak lalu mengucapkan terimakasih karena sudah diijinkan bertemu sarah, kemudian ia mohon pamit untuk pergi.
*****
Beberapa malam telah Sarah lewati dengan hati gusar. Seharusnya ia senang mendengar apa yang dikatakan oleh Syaiful siang itu, tapi ia sedih apabila teringat janji yang pernah ia tulis kemudian bayang-bayang wajah Emak, Rahman, dan Asna seakan mengatakan bahwa mereka butuh dirinya. Meskipun Sarah anak perempuan, namun hanya yang bisa diandalkan Emak, karena Rahman masih kelas 3 SD dan Asna kelas 1 SMP.
Sarah belum berani mengatakan apa yang dirasakannya kepada Emak. Dua kamus dan laptop itupun sama sekali belum ia sentuh sejak ia letakkan beberapa hari lalu diatas meja, tak seperti biasanya ketika ia bertemu dengan Syaiful setelah belajar bahasa Inggris dan mendapatkan tugas darinya.
Sejauh ini kegalauan hatinya masih bisa ia atasi sebelum menemukan keputusan yang terbaik. Ia berharap Emak tak tahu hal ini. Sarah takut emak mengijinkannya mengikuti apa yang disampaikan mas Syaiful, karena selama ini emak sangat pecaya dengan syaiful, selain Syaiful pemuda yang baik, dia juga anak seorang rektor universitas dimana emak jualan soto.
Detik-detik telah berlalu begitu cepat. Namun, Sarah masih diam tanpa keputusan pasti.
*****
Hari berganti hari, hingga telah dua minggu Sarah belum punya keputusan. Perubahan sikap sarah sedikit demi sedikit mulai terlihat. sepintar apapun Sarah menyembunyikan kegalauannya sebenarnya Emak sudah mengerti ada yang tidak biasa dengan anak gadisnya itu. Namun, Emak memilih diam menahan kemafhumannya tentang sikap Sarah yang tak seperti biasanya. Sarah yang ceria kini lebih suka melamun.
Pada suatu malam setelah Sarah dan Emak pulang berjama’ah Isya’. Sarah melangkah menuju kamarnya, kembali sarah mengambil diarinya lalu membuka halaman pada tanggal 13 Oktober 2010 seperti yang dilakukannya selama dua minggu setelah bertemu dengan mas Syaiful.
Tiba-tiba emak mengetuk pintu mengagetkan lamunannya. Segera ia menyembunyikan diari itu dibawah bantal kasurnya.
“Nduk, Emak boleh masuk?” suara Emak dari luar.
“iya Mak, tidak dikunci” jawab sarah diiringi suara pintu terbuka.
“Nduk, ceritakan sesuatu pada Emak sesuatu yang membuatmu sedih” kata-kata emak sambil membelai kepala Sarah penuh kasih sayang seorang Ibu.
Bukan kata-kata yang terucap dari mulut Sarah, akan tetapi tutur lembut Emak yang mengena pada poin masalah membuat air mata Sarah tak terbendung lagi. Tangis Sarah pecah dalam pangkuan Emak. Entah bisikan dari mana tiba-tiba tangan Emak mencari-cari sesuatu di bawah bantal, dan akhirnya apa yang dicari Emak ketemu, diari. Emak membaca pada halaman tanggal 13 Oktober 2010 dan membaca brosur beasiswa S1 ke Amerika.
“kamu ingin kesini nduk? Jangan ragu nduk, Emak merestuimu, sejauh ini apa sudah kamu lakukan nduk?” Tanya Emak dengan bijak sambil membelai-belai kepala Sarah.
Hanya gelengan kepala yang diberikan Sarah disertai sisa isak tangisnya.
“inikah yang kamu bicarakan dengan Mas Syaiful dua minggu lalu, Emak yakin nduk dia tak sembarangan meminta kamu untuk mencoba mendaftar ini, dia mengetahui kemampuanmu dan meyakini bahwa kamu akan diterima nduk” nasehat yang begitu bijak tak kalah dengan nasehat guru-guru SMA Sarah yang lulusan perguruan tinggi dengan Emak yang SD pun tak tamat.
“ini mimpimu nduk, emak tak akan menghalangi mimpimu. Sebagaimana pesan Abah untuk tidak melarang apapun mimpi kamu dan adik-adikmu selama itu baik. Berhentilah menangis dan bergeraklah, jangan lewatkan kesempatan ini dan jangan kecewakan mas Syaiful, besok temuilah Mas Syaiful mintalah bimbingannya. Sudah ya nduk Emak istirahat dulu besok Emak harus bangun pagi” Emak hendak berdiri namun tiba-tiba Sarah menahan tangan emak.
“Mak, terimakasih atas doa restu Emak. Tapi Mak….” kalimat Sarah tiba-tiba terhenti.
“tapi apa nduk?” selidik emak penuh rasa ingin tahu.
“siapa yang menemani dan membantu Emak? Asna dan Rahman di pesantren. Siapa pula yang membiayai mereka kalau Sarah pergi, sedang hasil jualan soto hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari” akhirnya Sarah mengungkapkan kegalauannya.
“nduk, wa yarzuqhu min haistu la yahtasib, begitukan janji Allah? Lalu apa yang kamu khawatirkan?” jawab Emak yang membuat Sarah tidak ragu untuk mencoba tes penerimaan beasiswa itu.
*****
Matahari mengintip dari balik jendela kamar Sarah, seakan ingin melihat senyum Sarah yang sudah dua minggu hilang entah kemana. Hari ini Sarah bersiap-siap menemui Mas Syaiful untuk meminta bimbingan. Merasa sudah cukup berhias di depan kaca, kemudian Sarah keluar kamar menuju dapur untuk pamit kepada Emak.
“Emak, Sarah pamit mau menemui Mas Syaiful, mohon doa restunya Mak” sambil meraih mencium tangan Emaknya.
“hati-hati nduk, semoga Ridlo Allah selalu bersamamu” pesan Emak.
“Amin…” jawab Sarah penuh harap.
Sarah melangkah dengan penuh keyakinan. Mimpinya seakan bukan hanya impian lagi. Amerika seakan tinggal melangkah satu kali lagi. Bimbingan dari Mas Syaiful ia perhatikan benar-benar. Usahanya ia maksimalkan. Ia juga memperbanyak latihan-latihan baik dengan mas Syaiful maupun ditemani Emak. Doanya menyatu dengan restu Emak. Rangkaian tes telah ia selesaikan dengan semaksimal mungkin.
*****
Hari ini hari yang ditunggu Sarah. Pengumuman penerimaan beasiswa ke Amerika. Sarah menunggu kedatangan Mas Syaiful di warung soto Emak. Mas Syaiful akan menyampaikan surat keputusan itu kepada Sarah.
Akhirnya yang ditunggupun datang. Surat itu ada ditangan Mas Syaiful. Segera Sarah menerima dan memberikannya pada Emak. Sarah ingin Emak yang membukanya.
“bismillahirrahmanirrahiim….” tangan Emak mengeluarkan isi amplop itu lalu membuka lipatannya dan membacanya. Senyum sumringah Emak melegakan hati Sarah.
“Selamat Nduk, kamu diterima” ucap Emak sambil merangkul Sarah dan mencium pipi merahnya.
Keberangkatannya sama dengan yang pernah ia tulis pada tanggal 13 Oktober 2010. Keajaiban sebuah mimpi yang diabadikan dalam tulisan kembali ia buktikan. Tulisan itu bukan hanya tulisan biasa tapi dari situ ada suatu kekuatan yang kadang tak bisa dinalar. Kekuatan yang bisa memacu diri untuk mewujudkan apa yang tertulis tersebut.