|
|
Tanggal 27 Rajab dikenal sebagai hari Isra Mi'raj -- salah satu hari besar umat Islam. Pada tanggal tersebut berlangsung fenomena penting bagi umat Islam yaitu Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Tepatnya seperti tanggal yang ditunjukkan sejarahwan yaitu tanggal 27 Rajab tahun ke 11 setelah pengangkatan Muhammad sebagai Nabi. Tiap tahun umat Islam Indonesia mengenang peristiwa itu. Mengenang Isra dan Mi'raj berarti juga mengenang fenomena perjalanan semalam Nabi Muhammad SAW dari masjid al Haram ke masjid al Aqsha dan dari masjid al Aqsha ke Sidratul Muntaha. Fenomena itu diabadikan dalam al Qur'an surat as Isra (memperjalankan di malam hari) ayat 1 yang diterjemahlan ''Maha suci Allah yang memperjalakan hamba-Nya pada suatu malam dan al Masjidil Haram ke al Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.''
Pada kesempatan itu Nabi Muhammad melihat rupa Malaikat Jibril di Sidratul Muntaha yang digambarkan dalam al Qur'an surat an Najm (bintang) ayat 13-18 yang diterjemahkan sebagai berikut: Ayat 13: ''Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, ayat 14: Yaitu di Sidratul Muntaha (di atas langit ke tujuh), ayat 15: di dekatnya ada surga tempat tinggal, ayat 16: Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, ayat 17: Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya, ayat 18: Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
Gambaran pencapaian tempat tertinggi Sidratul Muntaha dalam QS 70 (al Ma'aarij berarti tempat-tempat naik) ayat 3-4 yang diterjemahkan sebagai berikut: ayat 3: Yang datang dari Allah yang mempunyai tempat-tempat naik, ayat 4: Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun). Perekaman fenomena Isra Mi'raj itu dalam al Qur'an merupakan isyarat bahwa fenomena tersebut merupakan fenomena yang monumental bagi manusia. Bagi umat Islam tidak ada keraguan untuk meyakini bahwa fenomena Isra Mi'raj berlangsung dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Sesuai kodrat manusia sebagai mahluk yang berakal, fenomena luar biasa itu melahirkan rasa ingin tahu mekanisme berlangsungnya perjalanan Isra Mi'raj itu.
Di mana gerangan langit ke tujuh dan tempat tertinggi Sidratul Muntaha? Pertanyaan serupa juga pernah tumbuh pada 14 abad yang silam, pada saat manusia masih sukar membayangkan sosok benda langit pengisi alam semesta dan dimensi ruang angkasa yang sangat luas. Pengetahuan tentang kecepatan cahaya baru diketemukan oleh Ole (Olaus) Christensen Romer (1644-1710), astronom Denmark pada 1976 memperoleh pengetahuan kecepatan cahaya melalui keterlambatan kemunculan satelit Jupiter setelah gerhana dibanding dengan prediksi orbit. Romer berkesimpulan bahwa kecepatan cahaya terbatas dan mendapatkan angka kecepatan cahaya sebesar 225.000 km per detik. Pada berlangsungnya fenomena Isra Mi'raj itu manusia belum mempunyai pengalaman menerbangkan wahana antariksa dan ikut terbang di ruang angkasa. Ajaran Islam melalui fenomena Isra dan Mi'raj secara tidak langsung mempertegas bahwa ''manusia'' dapat menjelajah ke tempat yang tinggi. Kini prestasi umat manusia dalam penjelajahan ruang angkasa dapat disaksikan seperti penjelajahan manusia ke bulan pada dekade kedua paruh kedua abad 29 ini dari Pioneer (11 Oktober 1958), pendaratan manusia pertama dengan Apollo 11 (16 Juli 1969) hingga Luna 24 (9 Agustus 1976) wahana tak berawak yang membawa contoh bantuan bulan. Di penghujung abad dua puluh ini berpuluh wahana antariksa telah dilepas dari planit bumi untuk menjelajah mengembara berpuluh tahun atau bahkan beratus tahun ke dunia luar bumi, penjelajahan ke planit Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan lepas dari tatasurya (Pioner 10 (2 Maret 1972), Pioner 11 (5 April 1973), Voyager 1 (5 September 1977 mencapai Saturnus 26 Agustus 1981, Neptunus 25 Agustus 1989) dan Voyager 2 (20 Agustus 1977 mencapai Saturnus 12 November 1980)) berkelana ke ruang antar bintang.
Perjalanan ke langit atau ke obyek langit yang jauh memerlukan waktu bertahun dan bahkan berabad-abad atau berjuta tahun untuk mencapainya. Pengetahuan manusia makin berkembang begitupula penguasaan ilmu dan teknologinya sehingga perjalanan wahana tak berawak semacam itu dapat dilaksanakan. Qur'an surat al Ma'aarij (tempat-tempat naik) ayat 3 dan 4 memberi isyarat bahwa ''lama'' perjalanan seperti Isra Mi'raj itu tidak seperti lama perjalanan yang biasa dilakukan sehari-hari. Malaikat dan roh mencapai sehari yang lamanya 50 ribu tahun. Ada alam ghaib yang bisa dicapai dan pencapaiannya itu disimbolkan dengan beberapa kali lebih lama dibanding dengan perjalanan fisik.
Sekarang (sejak akhir abad 19) difahami kecepatan cahaya 300.000 km/detik merupakan sesuatu obyek tercepat yang dapat diamati manusia, matahari berjarak 8,3 menit cahaya (150 juta km), dimensi tatasurya hanya sekitar 800 menit-cahaya, sekitar 13,3 jam-cahaya. Jarak bintang yang terdekat diketahui 4,3 tahun-cahaya, (satu tahun-cahaya adalah jarak yang setara dengan panjang jejak berkas cahaya yang berjalan selama setahun atau 9.46052973 x 10 pangkat 15 meter). Pada tahun 1934 fisikawan Rusia bernama Pavel Cherenkov menghipotesakan adanya partikel berenergi tinggi dan berkecepatan lebih besar dari kecepatan cahaya. Partikel tersebut dianggap menjadi penyebab adanya radiasi yang lebih biru (radiasi Cherenkov) saat partikel berinteraksi dengan media, seperti sonic boom yang diakibatkan oleh obyek yang berkecepatan melebihi kecepatan suara. Partikel Cherenkov yang hipotetik ini hingga sekarang belum terdeteksi. Menurut teori relativitas khusus yang diketemukan oleh Albert Einstein (1879-1955) pada 1905 tidak terlarang adanya partikel dengan kecepatan lebih besar dari cahaya, partikel itu dinamakan Tachyion, energi dan massanya imaginer. [E={mc pangkat 2 / {(1 -(v/c) pangkat 2} pangkat 1/2} dan m=m0 / {(1 - (v/c) pamgkat 2} pangkat 1/2, m0 massa diam dan v kecepatan obyek bila v > c maka bila v/c > 1 energi, E, dan massa, m, berharga imaginer, E=mc pangkat 2].
Andaikan perjalanan Isra Mi'raj yang semalam itu merupakan perjalanan fisik dan mengikuti hukum alam yang difahami hingga saat ini, lokasi Sidratul Mintaha hanya sebatas tepi tatasurya, benarkah demikian? Betapa tidak mudahnya pemahaman fenomena perjalanan malam itu dalam kodrat manusia telah melahirkan pertarungan antara keimanan dan ketidakfahaman akal atas fenomena perjalanan malam tersebut yang tidak ditemui dalam pengalaman hidup sehari-hari. Walaupun capaian pengetahuan manusia daat ini sudah relatif sangat tinggi dibanding dengan 14 abad yang silam. fenomena Isra Mi'raj itu masih sukar difahami, apalagi pada masa 14 abad yang silam. Sehingga bisa dimengerti timbul sangkaan bahwa perjalanan malam itu tidak masuk akal dan muncul pendapat bahwa fenomena itu hanya ''dongeng''.
Fenomena Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 14 abad yang silam itu multi dimensi dan menarik banyak perhatian umat Islam oleh karena itu menggali hikmah Isra' Mi'raj merupakan upaya yang tak habis-bahisnya sepanjang zaman. Menggali hikmah pemahaman Isra' Mi'raj berpangkal pada peningkatan ketaqwaan dan perluasan pengetahuan manusia. Fenomena Isra Mi'raj memfokuskan ketertarikan manusia untuk mengenal dan memahami langit, fenomena langit dan penjelajahan ruang angkasa.
Seiring dengan penegasan al Qur'an untuk memperhatikan langit berarti juga ajaran Islam menstimulan lahirnya ilmu pengetahuan berbasis pada pengamatan (observasi science).
Hikmah Isra Mi'raj mengajarkan bagi manusia bahwa kemampuan rasionalitas akal yang dikembangkan berdasar pengetahuan empiris manusia mampunyai keterbatasan. Ada suatu kebenaran yang keberadaannya tidak bisa diyakini hanya melalui metodologi sains. Metodologi Sains berbasis pada pengujian pengamatan empiris untuk mengetahui keberadaan dan kareakteristik hukum (fisik) alam. Selain itu ''derajat kekomplitan'' pengetahuan manusia juga terbatas, hanya mendasarkan atas fakta yang tak lengkap atas sesuatu yang teramati. Dalam astronomi misalnya ''tanpa disuguhkan fenomena alam'' atas kehendakNya seperti bintang meledak, kehadiran komet, badai meteor, galaksi-galaksi yang bermilyar tahun cahaya, manusia akan sukar mengetahui keberadaannya atau pengetahuan lain yang diturunkan dari kehadirannya. Manusia tidak bisa mengetahui sarang komet bila tidak didukung oleh fakta-fakta kehadiran komet berkala panjang yang melintas dekat jalur bumi sehingga informasi dari sepenggal perjalanan komet-komet itu dapat dideteksi dengan bantuan teleskop maupun wahana antariksa. Fakta-fakta yang terekam dan terukur itu diolah melalui kemampuan berfikir manusia dan pada akhirnya juga meningkatkan pengetahuan umat manusia. Pengetahuan manusia bertambah sedikit demi sedikit secara evolusi. Melalui kegiatan penelitian secara sistematis manusia memperluas horizon pengetahuan dari 41 planit Bumi ke tepi alam semesta pada masa silam, kini dan masa datang.
Baru pada abad 20 ini umat manusia mengetahui bahwa dimensi alam semesta atau jagad raya ber milyar tahun cahaya. Pengetahuan itu dicapai melewati proses penemuan teleskop pada abad 17. Pengamatan dan mendeteksi galaksi, obyek yang lemah cahayanya. Pada akhirnya kemampuan akal manusia menganalisa fakta yang dihimpun melalui teleskop. Untik itu manusia mengembangkan kemampuan membuat teropong optik atau teropong radio yang lebih besar dan detektor yang lebih sensitif untuk mendeteksi signal informasi yang lemah. Proses itu menghantar manusia sampai pada pengetahuan bahwa alam semesta yang sangat luas, lebih luas dari apa yang difikirkan sebelumnya. Ada kebenaran yang terungkap setelah pengetahuan dan kemampuan manusia bertambah. Pertambahan itu terbatas, pengetahuan yang diberikan manusia sedikit, batas itu tidak diberikan dengan tegas masih bergantung pada upaya manusia untuk menyikapinya. Pengetahuan ini adalah anugerah Allah, jalan untuk mencapainya tak terprediksi sebelumnya. Seperti tidak sangka bisa terjadi penemuan teropong optik pada abad 17 dan teropong radio pada pertengahan abad 20 yang akhirnya menjadi perantara perkembangan pengetahuan astronomi moderen saat ini.
Antara keimanan (percaya tanapa sarat) datang dari informasi terpercaya (al Qur'an) dengan pemahaman yang dibangun oleh akal bisa terpisah oleh waktu. Proses pengertian oleh akal kadang-kadang memerlukan waktu yang lama. PEmahaman atas sesuatu kadang-kadang memerlukan proses yang panjang dan bertahap ada hirarki. Bila persoalan keimanan tanpa sarat dan keimanan melalui rute proses pemahaman terlebih dulu dipaksakan untuk dicarikan titik temunya akan terjadi kegagalan. Dasar keimanan diperlukan. pemahaman akal bisa menyusul kemudian atau bila akal tak bisa mencapainya sepanjang hayat keimanan dapat tetap ada. Tidak semua fenomena alam bisa dimengerti oleh akal dan proses pemahamanannya bisa berlangsung lebih panjang dari usia manusia. akan sangat sukar bila keimanan memerlukan sandaran persaratan pemahanan manusia atas sebuah fenomena, apalagi fenomena kehidupan sehari-hari.
Keimanan hakekatnya adalah memperlancar proses transmisi tentang sesuatu ajaran atau informasi dari sumber yang terpercaya, Allah penguasa adam semesta. Bila akal mencapai pada pemahaman terhadap fenomena seperti Isra Mi'raj, maka sangat diharapkan akan memperkokoh keimanan manusia. Contoh lain adalah
capaian pengetahuan dalam kurun waktu tertentu antara suku terasing dan warga yang sangat maju. Mungkin seorang anggota suku terasing akan terheran-heran melihat film penerbangan antariksa. sesuatu perjalanan yang belum pernah dijalani oleh suku terasing. Ada jurang pemisah komunikasi dan keilmuan, tidak mudah bisa menyakinkan menjelajah ke ruang angkasa. Ketidak mudahan pemahamanan rasio manusia atas fenomena Isra' Mi'raj mungkin disebabkan keterbatasan kemampuan manusia ataukah memang sebuah kodrat bahwa Isra' Mi'raj tak dapat sepenuhnya difahami lewat metologi science yang menjadi dasar-dasar bagi pemahaman manusia modern terhadap fenomena alam. Ada cara lain untuk memahami fenomena dalam kehidupan, perpaduan antara keimanan dan ilmu pengetahuan. Wallahu alam bissawab.